Masih ingat dong buat yang udah gede di era peralihan kaset pita ke bentuk MP3? Gara-gara teknologi yang udah berbeda, dalam waktu singkat kaset pita sukses di cuekin dan orang-orang beralih ke MP3 (tidak perduli ori atau bajakan). Tren baru untuk industri buku sepertinya siap-siap seperti itu. Sekarang ini lagi musim banget perangkat seperti i-pad dan handphone-handphone canggih touchscreen yang jelas banget support internet untuk download.
Kemarin baru ngeh saat mampir ke toko elektronik, dan melihat ada aplikasi pada i-pad (aku lupa nama aplikasinya), aplikasi itu seperti tempat penyimpanan ebook-ebook untuk dikelola seperti perpustakaan pribadi. Bahkan di dalam tuh i-pad udah ada buku (buku asing sih). Dari sana sudah bisa terbaca, bahwa orang bakal banyak baca buku versi pdf dari pada hardcopy. Alasanya simpel aja. Tidak berat. Sudah begitu dalam satu i-pad bisa di isi puluhan, bahkan ribuan buku(sesuai memorinya). Tentu hal ini harus dibaca bener-bener terutama untuk penerbit gede kalau ingin terus berjalan. Karena secara tidak langsung gadget-gadget itu ngajari orang untuk baca buku versi pdf. Meski sekarang yang tersimpan baru ebook asing. Karena orang lokal, pasti nanti akan mencari buku yang berbahas Indonesia.
Untuk industri besar yang biasa jual versi hardcopy tentu rada ngeri tapi untuk penerbit indie atau Self Publishing hal ini adalah kabar baik. Karena ongkos produksi semakin murah. Cukup jual versi pdf saja yang nyaris tanpa mengeluarkan uang (banyak aplikasi gratis untuk mengubah jadi pdf) melalui internet, misal melalui blog yang jelas-jelas banyak yang gratis juga. Bahkan sekarang untuk mendapatkan ISBN alias si nomer unik untuk buku, sekarang sudah digratisin meski konon masih ribet untuk mendapatkanya di perpus nasional Salemba.Jadi buat yang self publishing, stop deh kerja sama dengan beberapa publishing yang bantu nyetakin (ada pengalaman buruk nih aku sama mereka he…Matre banget sih mereka tuh…tidak semua sih). Cukup deh jual versi pdf aja biar hemat n tidak diporototin sama lembaga yang ngakunya sih bantu nyetakin buku self publishing kita. Tapi menurut aku lebih tepat morotin duit, sudah begitu seenaknya aja masang logo mereka ke buku kita tanpa bayar. Padahal naskah kita masuk ke situ aja bayar( misal kudu beli buku kita dulu berapa)
Cuma sistem baru ini yang sepertinya bakal boom pertengahan tahun nanti ada kelemahan. Mirip seperti MP3. Siap-siap saja versi ilegalnya di mana-mana tanpa terkontrol. Sejauh ini sepertinya belum ada Undang-undang untuk menjaga itu semua. Belum lagi, kita juga perlu usaha keras untuk kampanya beli yang legal. Jelas ini perlu sosialisasi yang butuh waktu tidak sedikit. Yah, itu bisalah kalau mau. Sekarang tinggal gimana kamu para penulis. Kesempatan besar nih, buku kamu yang susah tembus penerbit besar dengan aneka alasan bisa terbit dengan mudah dan di jual secara luas. Tentu kamu kudu pinter editing dan bikin layout yang cantik pula. Artinya buku bakal lebih penuh warna, gak monoton mentang-mentang pocong lagi laku nyaris semua penerbit bikin gitu juga dengan versinya masing-masing.
Well, siap gak nih dengan tren baru?