Standar, kata itu adalah kata yang selalu aku sebutkan dalam setiap sesi wawancara di setiap perusahaan yang ku masuki. Kenapa? Karena selalu ketika test dan dibahas hasil test mereka selalu bilang bukan seperti ini, harusnya begini. Artinya ada standar yang digunakan. Pernah juga saat membuat sebuah sistem informasi, aku bertanya mau dibuat seperti apa sistem ini sebenarnya saat bos ku ngomel mulu karena gak puas. Rasa gak puas itu jelas banget bahwa itu tandanya ada standar yang dia gunakan. Maka aku penasaran banget dengan namanya standar.
Begitu juga saat masuk ke perusaah baru ku ini. Saat mengikuti trainning pertanyaan sama berputar-putar di kepalaku. Tapi yang aku dapatkan cuma tentang code dan code. Enggak dibahas sedikitpun tentang si standar yang berputar-putar dikepala. Kesimpulanku lebih tentang gimana itu jadi gak peduli gimana. Padahal dalam sebuah code dikenal juga istilah kompleksitas waktu, alias efektifitas si code itu untuk dijalankan yang nantinya bakal memiliki pengaruh siknifikan ketika proses dijalankan untuk jumlah data yang banyak.
Aku sih dengar itu dari seorang yang ngejob di microsof yang aku gabungin dengan pengalamanku. Artinya di dalamnya ada standar yang meski kita ikuti. Apalagi ketika berbicara tentang sebuah produksi dalam industri. Dalam pengalaman ku beberapa hari ini, selalu bilang “biasanya”. Kata itu mengacu sebauh standar yang sayangnya belum di dokumentasikan. Yah, kalau sudah lama berjibaku sih enteng. Gue tahu apa, tapi kalau new comer. Mau tahu dari mana kata “Biasa” yang dimaksudkan. La wong masih baru e.
Seriusan standar itu penting banget, dan itu semua didapetin dari pengalaman selama ini. Oh kalo ini berarti gitu. Penting banget. Karena dari itu semua apa yang bakal kita kembangkan hari menjadi nyata dasarnya. Well, buat bangun sebuah bangunan penting banget bikin pondasi. Pengalama-pengalaman selama ini itulah yang meski jadi pondasi untuk membangun apa yang bisa kita dapetin. Jelas itu penting biar bangunan gak ambruk.